Setiap orang senormal dan sewajarnya menginginkan constant enhancement or achievement dalam hidupnya, sekecil apapun itu. Intinya manusia dasarnya ingin bergerak maju, bukan mundur. Tapi yang sering terjadi— ketika lingkungan sekitar kita lebih ‘maju’, kita malah gak seneng, gak mau mengakui, dan akhirnya malah jadi ‘julid’ alias berprasangka buruk.

Familiar dengan kondisi-kondisi seperti ini:
Teman kantor berangkat S2 ke luar negeri dengan beasiswa
Teman jaman SMA/kuliah menikah dan langsung punya anak
Sepupu buat bisnis restoran yang hits
Teman lama jadi rajin olahraga dan post2 tentang olahraga (and he truly lost some weight)

Pernah jugakah saat itu terlintas di pikiran seperti ini:
Hah padahal dia gak pinter2 amat
Ah palingan anaknya ntar diurus nanny
Jelas lah, kan dia pakai duit/channel orangtuanya
Ala2 banget palingan cuma kemakan trend

Come on.. if we think he/she doesn’t deserve it, do you think WE deserve it?

Kadang kita merasa ide dan pemikiran kita yang paling ‘benar’ (padahal belum tentu), dan orang lain itu ‘salah’ dan gak berhak dengan apa yang mereka dapatkan atau lakukan. Titik. Kita gengsi dan malu untuk mengakui kalau kita yang ‘salah' atau ‘kurang maju' dibanding teman, saudara, atau kolega kita. Apalagi nih, ketika latar belakang dan track record orang itu ‘kurang’ di mata kita. Jadi rasanya apa yang mereka lakukan salaaah terus.

Sesungguhnya kalau mengacu ke teori relativitas Einstein, benar dan salah itu hal yang sangat relatif, tergantung dari kacamata mana kita mau melihat dll atau tergantung ‘faktor X’-nya. Seseorang yang kita anggap ‘kurpin’ alias ‘kurang pintar’, bisa dianggap pinter banget oleh orang lain. Orang yang kita lihat ‘keren abis’, mungkin dianggap ‘meh’ sama orang lain. Yang ini gak akan ada habisnya, makanya suatu hal/isu akan selalu memiliki dua sisi, atau bahkan lebih, yang bertentangan satu sama lain. WAJAR, karena faktor X setiap orang pasti berbeda.

‘Be the best version of yourself’— suatu konsep populer saat ini, yang menurut saya bisa dilakukan untuk buat hidup kita jadi lebih ‘bahagia’. Mungkin lingkungan sekitar bisa dibuat sebagai motivasi, acuan, tapi untuk menjadi standar.. hmm tunggu dulu, mungkin akan lebih baik kalau kita bisa menentukan standar untuk diri kita sendiri. 

Waktu2 after office atau weekend yang biasa diisi dengan acara hangout bersama yang tersayang, mungkin bisa kita sempatkan sekali dalam berapa minggu/bulan untuk refleksi, bicara, mikir akan visi misi dan tujuan hidup kita. Kita coba kritisi pemikiran dan pola pikir diri kita selama ini. Dari situ, kita bisa tahu apa yang esensial dan yang tidak dalam hidup menurut versi kita.

Saya yakin, karena saya juga alami, di awal bicara dengan diri sendiri ini kita akan hadapi banyak distorsi, dimana kita akan banyak mau atau ingin segalanya. WAJAR, kita manusia mahkluk lemah yang tak pernah puas. Tapi dengan mengurutkan secara runut prioritas hidup, menyusun visi dan misi, dan terus diulang-ulang ditanyakan ke diri sendiri, akan semakin jelas siapa diri kita sebenarnya. Ini pondasi kuat untuk pada akhirnya menentukan tolak ukur kebahagiaan kita sendiri. Tips lebih lanjut soal self awareness ini, mungkin saya akan share di kesempatan berikutnya.

Intinya, konsep 'best vesion of yourself’ slash ‘happiest version of yourself’ bisa berbeda untuk kita, dia, dan mereka —which is WAJAR. Gak perlu paksakan konsep mereka ke hidupmu kalau memang deep down kamu tidak mau dan ingin, begitu pun sebaliknya tidak perlu paksakan konsep hidupmu ke mereka. Hal fundamental sampai yang tidak penting sekali pun, dari isu pernikahan, bisnis, gaya hidup, menjalin relasi, sampai warna rambut —hargai konsep diri yang mereka pilih dan tunjukan, karena itulah yang mereka percayai sebagai versi terbaik dirinya. Dengan begitu, niscaya jalanin hidup dan meraih 'kebahagiaan yang hakiki’ akan sedikit lebih mudah untuk kita.

Ketika dengar atau lihat kabar milestone baru dari relasi kita, akan menyenangkan kalau kita bisa ucapkan selamat, encouragement, atau hal2 yang positif. There’s a saying, it’s better to say positive things or nothing at all. Hayo, kita sendiri akan lebih seneng lihat komen “kurusan deh” dibanding “gemukan ya” kaan? ;)

So I guess, people have their right to pursue their own happiness, so do you.
Let them be happy, and you’ll be happy too.


--
Written by a lady who wish life could be as simple as drink fresh young coconut water at the beach.

2017 is my definitely golden year.
I must say I live my quarter life with wonderful madness instead of hateful crisis.

Have I told you that I love my 21st SO MUCH and the years followed? The curve went downhill from there but still, those years were GOLD. When 2017 came, which I was a newbie being 25, I was so hopeful.

Old and new to 2017 at London Bridge with the grandeur fireworks party in the sky combined with London's remarkable skyline, did I eligible for being so hopeless afterwards? No. I just didn't and shouldn't.

Then come the phrase,
"be careful of what you've wished for"
for me, it's more like
"Be more careful of what you haven't wished for. Embrace it all."

As usual, I was just being YOLO with my life.

At professional work, it's been a rollercoaster ride. I love my work and office so much for its unicorn startup environment, youthful, dynamic, briliant people, cool spaces, dope events, and all the perks of being GO-TROOPS. IMO, 2017 was the best year in GO-JEK as we exceled rapidly in parallel to our huge move to the new cool office in Pasaraya. Thus, being a part of its marketing team and GO-LIFE family was truly a crazy, fun ride.

I loved my bosses, teams, colleagues, and best friends I made along the way. Yet, at some points I felt lost in the middle. I felt numb. Dramas and words became invisible, 'cause at that point I just felt nothing and didn't give a f*ck anymore. I gave too much f*ck for too long, I felt unhappy and exhausted.
I got sick whenever I reached my table every morning. I remember I was keen to come early to just take a moment for myself. It was less people and quieter, easier for me to make up my mind and prepare each day's riots.

GO-CAFE was one of my favorite morning oasis, for its delish hearty foods for breakfast. And of course, GO-GYM, my serotonin gainer when I got the drive to jumpstart my day (oh now I miss it so much). Hence, dearest friends' frequent 'sebat time' throughout the day would be my most awaited oasis. :))

It was July 2017, exactly two years of being a GO-TROOP, and I felt like, 'this is it'. Actually, I'd thought about this since end of 2016. With some thinkings and significant people's considerations, I held my will and got back to work. Yet in few months, things were so different. So did I. Just so you know, 3 months in GO-JEK truly felt like a year. They moved and changed so fast, for its exponential growth was unevitable.

By the time I resigned in December, I was a part of LOKET and GO-TIX. So little yet remarkable time to work with all great people in there --the smartest yet humblest leaders I've ever known. It's my loss to leave them prematurely. Couldn't wait to meet them somewhere at the top, someday.


In love, I made peace with myself and my SO.
I did a lot of stepbacks to disconnect and think. Similar to my professional life, somehow I was lost in the middle. I lost myself. It's been me, myself, and I --who make the fusses all this time.
I was so busy doing shits I hardly listen anymore. Therefore, I tried to listen to what I really need, want, afraid of, and be thankful for. Honestly, if it's not Roland as my SO, I might not make it to where I was. He give me all I need and I couldn't ask for a better partner. I took me a lot of battleships to realize all of this. Thankfully, I was not too late :)


In travelbug, my body didn't event bother to fight the virus at all.
I FLEW ALL THE WAY TO LA, TO ATTEND COACHELLA. This one was beyond surreal. I didn't see this coming at all. I loved surprises and this one was RAD, if not the best one.
I became a Project Leader at annual Indonesia's Tourism Ministry project.
I witnessed the most beautiful blooms in my life: Japanese Cherry Blossom
I went back to Raja Ampat, explored the other part of this paradise: Misool!! Too beautiful.

I went to places. Experienced things. Met new people. Created memories.
Of course there were storms and stumbles, yet I didn't regret any of them at all.

Traveling will always be my kryptonite.

That's all I can share of my golden 2017.
Rocky roads and easy summer sea. Sour and sweet. Sun and moon. Mistakes and accomplishments. Yin and yang. The worst and the best. They were there, filled my days and nights, molding a better version of Jovita.

As I believe, we shall move to a bright clear blue sky no matter how hard the black clouds of storm try to holds us. Change is unevitable. Accordingly, a change for good is mandatory for our own good.

***


Saya menangis.
Di doa bersama dalam rangka syukur tahun baru pagi tadi, saya tidak kuasa menahan air mata.
Lebay? Not at all. I felt truly showered by His blessings. Tuhan begitu baik kepada saya selama hidup ini.

Ya, saya orang yang sangat beruntung.

Saya masih punya paru-paru dan hidung untuk bernapas, mata yang baik untuk melihat, mulut untuk makan enak, kaki kuat untuk jalan-jalan.. saya masih bisa 'hidup', dengan melakukan hal-hal yang saya cintai. Dan bisa dibilang saya tidak pernah 'hidup susah'. Kedua orangtua saya sangat bertanggung jawab dan menyayangi anak-anaknya, dimana saya selalu hidup penuh kasih dan berkecukupan, lebih dari cukup malah saya merasanya. Saya sangat bersyukur punya papa mama yang luar biasa dan jadi panutan hidup saya.

Saat ini kami sekeluarga sedang berlibur akhir tahun di Australia. It's never a dull moment creating memories with them at new places. Selalu ada cerita seru, kocak, kesel, girang, wah ada aja deh pokoknya. Saya sebagai anak pertama dengan saudara yang umurnya jauh2, makin kesini makin hepi karena adik2 saya sekarang udah gede semua. Jadi serunya pas jalan-jalan bisa dibagi bersama karena interestnya udah lumayan mirip2 dibanding beberapa tahun lalu.

Ditambah saya masih tidak menyangka di tahun baru 2018 ini saya punya titel baru, 'tunangan' alias somebody's 'fiancee'. Geezuz. Iya sih saya dan dia sudah pacaran lama sekitar lima tahun lebih. Tetapi untuk akhirnya mencapai tahap ini, saya masih shaky shaky yaya dada alias deg2an gak karuan! However, I couldn't ask for any better companion and proposal. It's been so special and I'm very happy. So, thank you my fiancee :)

Semalam kami menyaksikan salah satu kembang api terindah yang ada di dunia. Bagi saya, itu adalah kembang api tahun baru terindah yang pernah saya saksikan seumur hidup saya. Di kawasan Darling Harbour Sydney, kami meresapi warna-warni indah di langit dari atas kapal yang tertambat di sana. Berpelukan dan mengucapkan 'happy new year' bersama orang-orang tersayang adalah satu dari banyak momen di hidup yang sangat berharga. Like 'Look at us, we survived another year. It's not that bad, you know. So hello new year! Keep being yourself and stay amazing like those colors in the sky'.
Surreal.

That's why I cried like a baby this morning. I just couldn't hold this pure wholeness and gratitude inside of me.


Terima kasih, 2017.
2018, let's rock and roll.


**
January 1st, 2018.
11.01 AM - Oaks on Castlereigh Hotel Sydney

Mainan baru selalu bikin saya semangat, apalagi untuk dibawa jalan-jalan. Beberapa waktu lalu saya ke Singapore dengan membawa gadget saya yang paling anyar, yaitu... HP Stream 8 Tablet!



Awalnya naksir pas browsing Facebook dan liat tablet terbaru dari HP ini. Menurut saya, wah tablet bagus nih.. spesifikasi dan desainnya oke. Ukurannya pun pas untuk saya bawa kemana-mana untuk nulis atau update di media sosial, yaitu



Saya makin kebelinger waktu mau beli tablet ini, karena setiap pembelian Stream 8 dapet buanyak fitur gratis dari HP. Free One Drive cloud sebesar 1 T, data 4G, exclusive bluetooth keyboard.. siapa yang gak hepi?? Udah murah, printilan gratisnya dapet banyak pula. Gimana gak sebut HP Stream 8 ini tablet terbaik ya :')



Pas akhirnya saya bawa ke Singapore dan saya ulik-ulik di sana, saya makin jatuh cinta. Sesuai campaign #BendTheRules dari HP sendiri, Stream 8 Tablet ini bener-bener membengkokkan persepsi saya tentang tablet murah. Murah bukan berarti gak bagus, malah setara dengan smartphone canggih yang ada di luar sana.



Jadi sebenernya tujuan utama saya melancong ke Singapore adalah nonton konser #thatbasstour by the one and only Meghan Trainor. She's truly amazing! Selama 1,5 jam sukses menghibur penonton yang kebanyakan cewek-cewek dengan girl power yang luar biasa. Great vibe, great performance, great experience.





Saya update lah keseruan pengalaman nonton konser Meghan Trainor lewat HP Stream 8 Tablet ini. Bisa dibilang, produktivitas saya selama di Singapore terbantu banget sama tablet canggih dengan sistem operasi Windows 8.1 ini. Ngetwit, buka Facebook sampai update blog nyaman dan cepet banget! Bawanya pun pede karena modelnya yang stylish dan casing belakang bisa diganti dengan warna sesuai karakter. Cucok deh.





Apalagi buat para ceciwi nih, bisa puas ngaca dan narsis karena kamera built in ada di depan dan belakang tablet. Ada fitur basic editing sampai pakai filter segala! Lumayan lah ya untuk langsung apdet di Facebook :))




Kerjaan yang sempat tertunda pun bisa saya selesaikan berkat dukungan aplikasi Microsoft Office 365. Oh ya, ngetik untuk dokumen-dokumen panjang juga semakin nyaman karena kehadiran exclusive bluetooth keyboard yang sepaket sama HP Stream 8.

Waktu mau pulang dari Singapore, pesawat saya sempat mengalami delay. Tapi gak ada rasa bosan sama sekali karena bisa asik main games di Stream 8. Didukung processor quad core dari Intel yang tangguh, tablet ini bisa dipakai untuk main games yang butuh spesifikasi besar kayak Age of Sparta yang saya mainin.



Mulus mainnya gak pake ngehang. Sayang gak ada foto saya lagi ngautis di Changi karena keasikan main :))



Nah kamu pun bisa punya tablet kece yang sama seperti punya saya ini di hpshopping.id. Bisa dapet tambahan diskon 5% untuk semua produk kalau kamu masukkin kode voucher ini:
201504FAN02

Jangan lupa share ya kalau udah ngerasain serunya pake HP Stream 8 tablet~



A HPpy user, I am!
Diberdayakan oleh Blogger.