Area urban menurut saya memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan dengan pantai, gunung dan tempat-tempat alami lainnya. Di Extraordinary Trip kemarin, saya sempat menghabiskan beberapa hari di Perth, salah satu kota terbesar di Australia. Waktu yang sempit tidak mengurangi kesempatan saya untuk mengagumi tata kotanya yang apik. Gedung-gedung bertingkat berdampingan dengan taman, tepi sungai, pelabuhan dan pantai-pantai indah.. semua selaras di mata dan di hati.



Berbeda dengan Sydney dan Melbourne yang lebih tenar dan ramai, kota Perth memiliki aura laid-back dan damai. Mungkin dipengaruhi oleh jumlah penduduknya yang lebih sedikit dibanding sister cities-nya, mungkin karena banyak tepian sungai yang tenang mengalir, mungkin karena jumlah mobil yang tidak terlalu banyak.. yah apapun alasannya, saya merasa Perth adalah kota yang nyaman dan menyenangkan untuk dihuni.

Sukses saya dibuat jatuh hati oleh lansekap kota Perth yang terlihat dari Kings Park & Botanic Garden, taman terluas di sana yang posisinya berada agak tinggi seperti bukit. Sejauh mata memandang adalah jajaran gedung, sungai, dan jalan-jalan layang yang seakan menjadi background taman yang pun sudah indah dengan sendirinya. Baca buku, sambil mengamati lalu lalang warga setempat di Kings Park, ikut lari-lari kecil di jogging tracknya.. wah rasanya saya bisa seharian di Kings Park!



Untuk mendapatkan suasana yang Perth banget, bersantai di tepi danau adalah suatu keharusan. Swan River adalah pilihan yang menarik. Selain letaknya yang tidak begitu jauh dari hotel kami di Mercure, kami sekaligus napak tilas sejarah kota Perth dimana semua berasal dari danau ini.



Dulu bangsa Inggris berlayar berbulan-bulan dan berlabuh di Swan River untuk mencari emas. Pada akhirnya mereka jatuh cinta pada area barat Australia ini dan para pendatang terus berdatangan dan membuat kawasan ini terus berkembang.


Masih di seputaran Swan River terdapat pula Bells Tower, gedung yang bisa dibilang adalah salah satu icon dari kota Perth dan Western Australia. Sesuai namanya, di dalam bangunannya konon terdapat banyak lonceng. Sayang sekali saat kami kesana tower ini sedang direnovasi sehingga kami tidak bisa naik dan melihat keindahan Swan River dari atas. Pun kawasan ini memang sedang mengalami pembangunan skala besar yang membuat alasan pelancong macam kami ini untuk datang lagi beberapa tahun lagi ;)





Mendapatkan suasana Britania di Perth juga bukan hal yang mustahil. Kunjungi London Court di pusat kota dan kita akan berasa bukan di Australia seketika.



Tempat yang diakui sebagai salah satu situs bersejarah di Western Australia ini memang sengaja dibangun pada tahun 1937 untuk menarik para saudagar Inggris untuk mau datang dan berdagang di sini. Dulu tempat ini adalah tempat tinggal sekaligus kantor dan toko untuk mereka, namun sekarang sebagian besar sudah beralihfungsi menjadi komersil saja. Duduk-duduk di café sini asik juga lho.. sekilas serasa di film Harry Potter pas Harry belanja perkakas sihirnya. Hihi.



Belum sampai situ saja Perth memberi saya kejutan. Ketika sampai di Cottlesloe, saya langsung merasa kota ini memiliki segalanya. Pantai yang indah, ombak tenang dan santai saya temukan di Cottlesloe yang adalah pantai paling terkenal di Perth.





Banyak keluarga maupun individu terlihat begitu menikmati matahari siang itu, walaupun angin cukup dingin dan kencang berhembus karena saat saya kesana masih awal musim semi. Jangan lupa mampir ke beach club di Cottlesloe Beach Hotel, great food & place. Jadi kangen…




Menikmati kota ini bisa dengan banyak cara, city tour bus dan taksi misalnya. Tapi kalau ingin menikmati cantiknya kota Perth dengan cara yang unik, cobalah ikut Two Feet and A Hearbeat Tour.



Ya, kita akan diajak berjalan kaki mengelilingi Perth sesuai dengan interest kita bersama dengan guide yang santai dan menyenangkan. Ada historical, food & beverage, small bars tour.. spot-spot yang didatangi kebanyakan hanya diketahui orang lokal alias tidak touristy. Cocok untuk kamu yang anti-mainstream(haha!) dan mau curi-curi bakar kalori disaat melancong.. siapa bilang jalan-jalan selalu bikin gendut? :))



Urusan penginapan di Perth tidaklah sulit, banyak akomodasi tersebar di semua penjuru kota dan variatif sesuai dengan budget. Kemarin saya dan teman-teman Extraordinary Trip menetap di Mercure Hotel yang berada di pusat kota. Gedung-gedung menarik dan bersejarah, seperti Supreme Court of Western Australia, Council House, Government House, hanya sejangkauan kaki.


Banyak taman di sekitar gedung-gedung itu terhampar luas dan teduh dengan rerimbunan pohon-pohon tinggi. Swan River yang saya sebut-sebut juga hanya berjarak sepuluh menit dari Mercure. Keramahan pelayanan bertemu keindahan sekitar.. sungguh menyenangkan!




To sum up my #ExtraordinaryTripexperience:
  • Leyeh-leyeh atau lari-lari kecil di Kings Park & Botanic Garden is a must!
  • Makan eskrim dan bersantai di Swan River
  • Ke London Court nikmatin suasana ala film Harry Potter
  • Berjemur Cottlesloe dan brunch di beach club Cottlesloe Beach Hotel
  • Two Feet and A Heartbeat, menikmati Perth sambil berkeringat ;)

Enjoy your trip, enjoy your life!
x



Photo courtesy
Achmad Alkatiri
Stephanie Sekar



Firstly, I would like to thank Wego Indonesia, Achmad Alkatiri in particular, for the opportunity to join #ExtraordinaryTrip and explore the wonders in Western Australia. Oh yes, it turned out way beyond extraordinary!


Masih membekas di ingatan saya saat pertama kali dapat informasi dari bos-bos di Jejak Petualang kalau tim kami diperbolehkan memenuhi undangan Wego untuk berangkat ke Australia. Bagaimana tidak, program adventure yang sudah 12 tahun bertahan di kancah pertelevisian Indonesia ini memang lebih mengedepankan petualangan dalam negeri. Karena semua mengakui, kekayaan alam dan budaya Indonesia tidak ada habisnya untuk dijelajahi. Tempat yang sudah pernah dieksplor sekali, bisa berubah 180 derajat setelah beberapa tahun kemudian didatangi. Maka dari itu hanya di kesempatan-kesempatan tertentu, dengan pertimbangan konten liputan, tim dari Jejak Petualang bisa melakukan perjalanan ke luar Indonesia.

The golden team yang berangkat berisi tiga orang, saya, Dany alias bos saya yang jadi cameraman dan Andra si reporter handal yang merangkap megang kamera bantuin pak bos.

 

Jujur menjelang hari keberangkatan ada rasa was-was, karena perjalanan kali ini 1) di negara orang, 2) kita diundang orang, 3) bareng orang lain yang baru akan kenal di trip ini. Tapi akhirnya semua kekhawatiran di awal itu bisa dilewati dengan memegang prinsip pak bos gw, ‘woleees..’.

Banyak sekali keceriaan dari awal sampai akhir Extraordinary Trip ini yang saya pribadi tidak sangka. Dua belas orang yang berangkat bersama seakan seperti sudah kenal lama. Saya jadi tahu bawel tapi lucunya Alex alias @amrazing ketika sinyal hp menghilang tiba-tiba, betapa ‘menipu’nya muka baby face Kenny Santana alias founder @kartupos itu, betapa kerennya kamera yang dipake mas Ernanda, dan seterusnya dan sebagainya. Semua memberi warna, semua ikut andil merangkai cerita selama menikmati indahnya Australia.

Ada yang mengatakan kalau traveling is not about the destination, it’s about the journey and the people in it. Saya percaya akan itu dan bisa saya katakan kalau trip ini semakin membuat saya mengamini pepatah tersebut.



Entah titel mereka selebriti, selebtwit, penulis, pencerita visual, travel organizer… semua seakan melebur seiring wine yang selau tertuang di gelas kami siang dan malam di sana. Tempat-tempat yang indah di Western Australia terasa lebih mempesona dengan keberadaan mereka yang selalu excited. Ya, saya dan mereka hanya sekumpulan pejalan yang extraordinarily had so much fun in Extraordinary Trip.

Posting ini prolog dari sebuah cerita yang menggugah hati untuk tidak pernah berhenti mengapresiasi keindahan yang diciptakanNya plus mensyukuri apa yang diberikanNya dalam hidup kita. ‘Cause when you stop walking and look around, life is pretty amazing J




Pecinta perjalanan, pecinta hidup
x
Bekerja office hour 9 to 5 tidak berlaku bagi kami para pekerja di lapangan. Kadang bisa jam tujuh pagi sampai lima sore, kadang jam lima subuh sampai jam tujuh malam.. ya prinsip suka-suka deh, karena pada dasarnya semua tergantung dari apa yang ingin diliput.

Capek? Kalau ngomongin capek ya sama lah seperti teman-teman yang setiap hari berangkat pagi pulang malam kerja di rimba ibukota yang sesak. Terkadang (seringnya sih) malah bisa lebih melelahkan karena bener-bener kerja di rimba yang berbatu, becek, terjal, berduri, lembab, berpacet, dan sebagainya dan seterusnya. Jadiii temen-temen harus tetep bersyukur ya masih bisa pulang pergi cari nafkah di rimba aspal alias kota, karena kadang hal yang kita anggap biasa bisa mewah di mata yang lain :)

Berjemur di panas terik matahari, kaki pegel beset sana beset sini, perut gak karuan terombang ambing di laut, pundak pegel bawa ransel.. udah jadi santapan kita setiap hari. Jujur, pertama-tama saya pun sempat 'cultural shock'. Gimana enggak, di Jakarta, kota tempat saya lahir dan tinggal, dimana sih tempat yang gak pakai AC? Dimana sih tempat yang gak ada mobil/motor/kendaraan umum? Dimana sih yang gak ada warteg/warung padang terdekat? Semua serba nyaman, semua serba terjangkau, semua serba mudah. Itulah alasan saya kenapa sedari dulu saya ingin sekali keluar dari 'zona nyaman' saya ini dengan segala kemudahan yang ada.

Beruntungnya saya, 'keluar' dari Jakarta menjadi pekerjaan. Yang artinya saya bisa mengurangi kepadatan rimba Jakarta, yang semakin bertambah sesak setiap harinya, dengan menjelajah rimba-rimba baru yang tersebar dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia... dan dibayar besar!

Eits, jangan langsung mengira-ngira nominal uang ya.. dibayar besar versi saya agak berbeda. Apa yang saya lihat, dengar, tahu, dan rasakan, itulah tolak ukur saya. Hehehe. Dibayar dengan apa yang semua panca indera saya dapatkan dikali memori yang tertinggal itu rasanya melebihi angka nominal mana pun. :)

Termasuk foto ini,
menikmati senja di atas kapal di perairan Komodo Flores, penutup cantik setelah hari itu merupakan kali pertama saya (akhirnya setelah sekian lama) bertemu manta bersama dengan teman-teman dari Manta Watch yang inspiratif. Senja sore itu seketika jadi lima kali lebih cantik!

Sebenarnya dibayar dengan nominal uang menurut saya tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang saya dapatkan dalam setiap perjalanan, setiap orang yang saya temui.. dan di setiap momen matahari terbenam di langit yang cerah seperti ini.

Semoga kamu menikmati senja di rimbamu sendiri.
Salam.



Pecinta keindahan, pecinta hidup
x

Perjalanan siang itu cukup membekas di ingatan saya.


Siapa nyana, Danau Toba yang terlihat indah di mata ternyata menyiksa di pantat. Ya, perjalanan pulang kali itu cukup berliku dan bouncy, dikarenakan kontur yang naik turun ditambah kondisi aspal jalan yang tidak semuanya baik.

Jalur pulang yang saya pilih waktu itu memang bisa dikatakan jalur alternatif. Kenapa saya memilihnya? Karena jalur ini berada di tepian danau sehingga saya masih bisa menyusuri dan menikmati lukisan ilahi seperti di atas. Pendatang biasanya mengambil jalur utama yang jalannya relatif lebih lebar dan bagus, namun sayangnya pemandangan cantik sudah tidak terlihat lagi. Karena itu kenapa tidak ambil jalan yang lebih berliku tapi memanjakan mata? Ah, saya bisa bicara begini karena bukan saya yang menyetir mobilnya :p

Sungguh sebenarnya meninggalkan tempat ini saya tidak rela. Perpaduan bukit baris di sekeliling membuat kombinasi magis dengan hamparan biru pekat yang seakan bercerita. Entah mengapa Danau Toba sepertinya menyihir saya untuk terus memujanya, bahkan di saat terakhir saya harus mengucapkan sampai jumpa.

Smiling faces after a loooong yet fun shooting day.

From left to right, Mr. Plasticman, Sorrel, me, Lily, Trudie, Pak Ong. 
It's just great to get these wonderful & dedicated people in one frame.

Luckily, the sky gave us pinkish-orange colors to appreciate our hardwork that day.. so pretty I just couldn't stop smiling.



Miss you, Bajo
x
We thrilled by little things.
We made fun to little things.
We simply appreciate little things.
Any little things as long as we're happy!


Diberdayakan oleh Blogger.